Selasa, 02 Oktober 2012

Usaha ''kebugaran''

Peluang Usaha Pusat Kebugaran. Memiliki tubuh yang sehat dengan lekuk tubuh yang sintal dan seksi tentu menjadi keinginan banyak kaum hawa. Begitupun para lelaki, yang mendambakan tubuh bugar untuk menunjang aktivitas sehari-hari. Kondisi ini memicu pusat kebugaran alias fitness center terus bermunculan dan membuka peluang usaha baru.Kelasnya pun sangat beragam, mulai dari kelas superelite dan eksklusif hingga yang murah meriah. Yang membedakan, selain lokasi, tentu saja kelengkapan fasilitas dan layanannya.
Tentu, tidak sembarang pengusaha bisa masuk ke segmen papan atas. Sebab, modalnya bisa menembus angka miliaran rupiah. Jadi, jika Anda ingin mencicipi segarnya bisnis pusat kebugaran ini, Anda bisa mengambil segmen menengah. Modal tidak terlalu besar, tapi potensi pasarnya sangat besar. Logika saja, jumlah kalangan menengah jauh lebih besar ketimbang kaum elite.
Lihat saja, beberapa pemain pusat kebugaran kelas menengah mengaku, mereka bisa balik modal dalam tempo kurang dari satu tahun. Sinergi Fitness mengaku, mereka bisa balik modal dalam tempo enam bulan. Adapun Ampaba Fitness Club di Cengkareng sudah mulai mencetak keuntungan di bulan keempat. “Saya yakin, dalam waktu enam bulan, saya sudah balik modal,” ujar Kurniawan Perkasa, pemilik Ampaba Fitness Club, yang saat ini bekerja di sebuah bank swasta. Yakin dengan potensi pasarnya, Kurniawan akan meresmikan cabang baru di Tendean, Jakarta, bulan ini. Targetnya, dalam setahun ini, Ampaba Fitness sudah beranak jadi empat cabang.
Jeli membidik lokasi usaha dan segmen
Mungkin Anda juga memperhatikan, pusat kebugaran itu sering muncul dan menghilang. Kejelian memilih lokasi dan menentukan segmen pasar menjadi salah satu kunci penentu sukses atau tidak usaha ini. Istijanto Oei, pengamat pemasaran dari Prasetiya Mulya Business School, menyarankan agar memilih lokasi di dekat kampus, perkantoran, atau mal.
Sebab, menurut dia, dewasa ini justru kalangan mahasiswa dan eksekutif muda merupakan target market yang baik. Bagi mereka, kegiatan olah kebugaran atawa fitness ini bukan hanya fungsional, untuk mendapatkan kebugaran, tapi sudah menjadi gaya hidup. “Bagi eksekutif muda, fitness menjadi aktivitas altenatif keluar dari rutinitas kerja. Sementara bagi mahasiswa, untuk mengisi waktu senggang,” katanya.
General Manager Sinergi Fitness Iwan Kumara menambahkan, potensi pasar usaha pusat kebugaran ini tidak hanya di kota besar, seperti Jakarta. Bahkan, kota di luar Pulau Jawa juga sangat potensial, misalnya di Kalimantan. “Kami sendiri saat ini mulai mempromosikan tawaran kemitraan di luar Jakarta,” ujarnya.
Namun, Noviansah, pengelola fitness center Brother Gym di Depok, Jawa Barat, mengingatkan agar tidak terlalu mengharapkan untung besar jika membuka usaha ini di pinggiran kota. Sebab, Anda tidak bisa mengenakan biayamembership yang tinggi. Misalnya, di tempat dia bekerja hanya mengenakan biaya keanggotan Rp 50.000 per bulan. Adapun, nonanggota kena biaya Rp 15.000 sekali datang. Alhasil, omzet usaha ini sekitar Rp 4 juta per bulan. “Kami masih ada keuntungan karena lokasi tidak menyewa dan pelatihnya sekaligus pemilik,” kisahnya.
Faktor penentu kesuksesan lainnya adalah pelatih kebugaran yang terampil dan peralatan yang cukup lengkap. Dengan demikian, orang tidak cepat bosan hanya berlatih dengan alat yang itu-itu saja. Sediakan pula fasilitas pendukung yang membuat orang nyaman. Misalnya, minuman kesehatan atau kafe kecil. Sekadar ancar-ancar, untuk membuka pusat kebugaran, Anda memerlukan ruang minimal seluas 60 meter persegi. Jangan lupakan juga, lahan parkir yang memadai.
Buka baru atau akuisisi
Untuk masuk ke bisnis ini, ada dua jalur yang bisa Anda pilih. Alternatif pertama, Anda bisa memilih membuka pusat kebugaran baru. Untuk membuka usaha baru ini, Anda bisa melakukan sendiri atau menjadi mitra pusat kebugaran yang sudah eksis dan mempunyai pengalaman. Soal modal, keduanya memerlukan dana cukup besar, minimal Rp 100 juta.
Jika membuka usaha mandiri, Anda harus mau repot. Misalnya, membeli peralatan baru dan perlengkapan, merekrut tenaga kerja, terutama pelatih kebugaran. Ini bukan hal gampang. Anda juga harus melakukan renovasi agar tempat usaha layak menjadi studio senam. Misalnya, Anda harus membuat sistem akustik ruangan sehingga suara musik tidak bocor ke mana-mana.
Lain cerita jika Anda mengikuti sistem kemitraan. Setidaknya, ini akan mengurangi tingkat kerepotan Anda. Salah satu pusat kebugaran yang menawarkan sistem ini adalah Sinergi Fitness. Perusahaan ini sudah menawarkan kemitraan sejak tahun 2008 dan hingga saat ini sudah memiliki 9 cabang.
Untuk bergabung dengan Sinergi Fitness, Anda harus menyiapkan dana minimal Rp 100 juta. Dengan investasi sebesar itu, Anda akan mendapatkan peralatan senilai Rp 65 juta, sound system, CD player, dan speaker seharga Rp 1,5 juta, plus locker senilai Rp 3,5 juta. Selain itu, Anda mendapat 4 buah AC 1 PK seharga Rp 10 juta, dan komputer kasir plus printer Rp 3,3 juta. isanya untuk biaya lain-lain, seperti cermin, karpet, majalah dinding, meja, dan papan nama usaha.
Oh, iya, khusus untuk peralatan, Sinergi menyediakan fasilitas kredit. Syaratnya, nilai uang muka atau down payment (DP) sebesar 30%. Pembelian bisa diangsur sampai 18 bulan dengan bunga 1,95% per bulan.
Jangan khawatir, Sinergi juga sudah menyiapkan tenaga pelatih di pusat kebugaran Anda. Sinergi mengasumsikan, omzet per gerai mencapai sekitar Rp 25 juta per bulan. Sumber penghasilan adalah uang membership baru Rp 175.000, iuran bulanan Rp 125.000, dan walk in guest Rp 20.000 per datang. Tambahan penghasilan bisa diperoleh dari penjualan minuman, suplemen, dan merchandise yang ditaksir paling tidak Rp 200.000 per bulan.
Adapun pengeluaran bulanan, terdiri dari gaji 4 karyawan sebesar Rp 7,5 juta, biaya listrik, air, dan telepon Rp 900.000, biaya lain-lain Rp 1 juta. Lalu, untuk sewa ruko, sekitar Rp 70 juta per tahun. “Management fee saat ini belum diterapkan, baru cabang ke-11 nanti kami berlakukan 2,5%-5% dari omzet per bulan,” ujar Iwan.
Alternatif kedua adalah membuka usaha dengan mengakuisisi pusat kebugaran yang mau tutup, seperti yang dilakukan Kurniawan. Keuntungannya, investasinya lebih rendah. Anda pun tidak perlu terlalu repot membeli peralatan dan perlengkapan, serta melakukan renovasi. Namun, Anda harus mengevaluasi, apa penyebab usaha itu akan gulung tikar. Setelah itu, Anda harus mau memperbaikinya. Biasanya, usaha pusat kebugaran terancam tutup karena tidak mampu menjaga atau meningkatkan fasilitasnya. Alhasil, pelanggan lama pun beralih ke tempat baru yang menyediakan fasilitas lebih komplet. Belajarlah dari Kurniawan. Ia membeli Ampaba dari temannya. Sebelum dia beli, anggota pusat kebugaran ini terus menurun. Lantas, Kurniawan merenovasinya dan meremajakan beberapa peralatan. Alhasil, anggota baru muncul dan anggota lama kembali. Kini ia mengaku mempunyai 150 anggota tetap dengan omzet Rp 15 juta per bulan.

0 komentar:

Poskan Komentar